KIDUNG GERIMIS
By : Miftah Nur Khalid
ini kali pagi bermandikan gerimis
basuhi wajah malam yang melulu nangis
semalam. legam. lebam. matanya melukis garis
memerah. memeram marah yang nyaris, sadis.
melumpuh segala jenis ingatan pada bulan
mengapa begitu tega kau hianati malam?
lalu kau kulum segala jenis bintang-bintang
hingga hanya tinggal luka yang menggenang
meski setelah entah beberapa menit lalu
gerimis tiada lagi membiar diri tersedu
tulang-tulangku bahkan masih terasa begitu ngilu
sama seperti ketika aku semalaman tanpa kau cumbu
("sayang, aku mencintaimu. bahkan aku berjanji
tiada lagi gerimis kan kembali meriwis ketika pagi
karena mencintaimu bagiku, adalah seperti ketika aku
menyebrangi lautan dengan tanpa perahu")
("lalu bagaimana jika gerimis kembali tersedu?
teringat warna coklat yang entah bagaimana mulanya jadi kelabu
apa kau bisa menukarnya dengan rasa rindu?
yang kini semakin luruh dijantung waktuku")
aku terdiam. di titik ini aku merasa gersang
butuh tiba-tiba deras hujan kemudian datang
hapus segala kata-kata manisnya yang terasa begitu pahit
serupa pintu usang yang kerap kali menderit
: diJantungku...
rindu melepas diri dari waktu
sedang mencintai...
bagiku, tiada pernah punya tepi
Cikarang, 02-04-2015
Comments
Post a Comment